
Gambar hanya Ilustrasi
Pernah nggak sih Anda berdiri di tengah ruangan rumah tipe 36 dan merasa bingung? "Ini sofa mau ditaruh di mana biar nggak nabrak meja makan?" atau "Gimana caranya bikin dua kamar tidur tapi ruang tamu tetap lega?"
Tenang, Anda nggak sendirian. Rumah tipe 36 memang primadona di Indonesia karena harganya yang terjangkau, tapi tantangan utamanya selalu sama: keterbatasan lahan. Seringkali kita terjebak menata perabot dengan gaya lama yang justru bikin rumah makin sumpek.
Nah, di artikel ini, kita akan bedah studi kasus nyata: bagaimana mengubah tata letak standar tipe 36 menjadi hunian yang efisien, lega, dan fungsional dengan bantuan teknologi. Kita akan pakai fitur Asisten Desain AI di Denahku untuk mencari solusi layout terbaik tanpa harus geser-geser lemari berat.
Biasanya, kita mulai dengan kertas kosong dan bingung mau garis apa. Di sini, kita biarkan teknologi yang bekerja duluan. Saya mencoba menggunakan fitur Asisten Desain AI di editor Denahku.
Alih-alih menggambar manual satu per satu, saya memasukkan prompt sederhana:
"Desain rumah tipe 36, 2 kamar tidur, konsep open plan living dining, minimalis modern, efisien space."
Hanya dengan biaya 2 Kredit, AI langsung memberikan kerangka dasar. Hasilnya mengejutkan! AI menyarankan konsep open plan di mana ruang tamu dan dapur menyatu tanpa sekat tembok masif. Ini trik klasik arsitek yang sering dilupakan pemilik rumah. Sekat tembok itu "memakan" visual ruang. Dengan menghapusnya, mata kita bisa melihat dari ujung ruang tamu sampai ke dapur belakang, menciptakan ilusi ruangan yang jauh lebih luas.
AI memberikan dasarnya, tapi sentuhan rasa tetap ada di tangan Anda. Dari hasil generate tadi, saya melakukan sedikit modifikasi menggunakan Editor Denah Lantai:
Di tahap ini, Anda bisa bereksperimen. Kalau salah taruh, tinggal klik tombol Delete atau geser lagi. Jauh lebih mudah daripada beli sofa duluan terus ternyata nggak muat masuk pintu, kan?
Denah 2D kadang menipu. Di kertas terlihat muat, tapi pas dibangun kok sempit? Inilah kenapa fitur Penampil 3D sangat krusial.
Setelah layout selesai, saya masuk ke mode 3D (tips: bagi pengguna PRO ini gratis sepuasnya, tapi kalau Anda pengguna gratis, cukup sisihkan 7 Kredit untuk membuka fitur ini di proyek Anda). Di sini saya melakukan "jalan-jalan virtual".
Apa yang saya temukan?
Melihat rumah dalam bentuk 3D sebelum dibangun bisa menyelamatkan Anda dari kesalahan renovasi senilai jutaan rupiah.
Desain bagus percuma kalau bikin dompet jebol. Setelah desain final, saya langsung klik tombol Estimasi Biaya (RAB).
Saya set lokasinya ke "Jabodetabek" dengan kualitas "Standard". Sistem Denahku secara otomatis menghitung perkiraan biaya struktur, finishing, hingga instalasi listrik. Angka yang keluar membantu saya sadar: "Oke, mungkin lantainya pakai keramik dulu, belum marmer."
Fitur ini sangat membantu untuk tawar-menawar dengan kontraktor nantinya. Anda jadi punya patokan harga yang wajar. Buat Anda yang sudah upgrade ke PRO Pass, rincian ini bahkan bisa diunduh ke Excel untuk diutak-atik lagi.
Berdasarkan eksperimen desain tadi, ada beberapa kunci utama agar rumah tipe 36 terasa seperti tipe 45 atau 60:
Mendesain rumah mungil itu seni menyeimbangkan kebutuhan dan keterbatasan. Dengan bantuan AI, Anda nggak perlu jadi arsitek profesional untuk mendapatkan layout yang masuk akal dan nyaman.
Punya ide lain? Coba langsung bikin proyek baru di dashboard Anda. Jangan lupa, kalau hasilnya keren, bagikan ke Community Feed. Siapa tahu desain Anda masuk Leaderboard minggu ini dan dapat lencana khusus!
Selamat berkreasi dengan ruang impian Anda!
Coba fitur AI Generate, drag-and-drop, dan RAB yang bisa diedit langsung di Denahku.
Coba Sekarang